Shading Net PDF Print E-mail
Written by ditlinhorti   
Thursday, 20 December 2012 04:26
"SHADING NET" SARANA PENGENDALI PREVENTIF OPT PADA TANAMAN CABAI
Ole :Hendry Puguh Susetyo, SP
(POPT, Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura)

Cabai (Capsicum Annum var longum) merupakan komoditas hortikultura jenis sayuran buah semusim yang banyak diusaha tanikan oleh petaniProduksi Cabai merah selama 5 tahun (2005 – 2009) berdasarkan data Kementerian Pertanian Republik Indonesia yaitu ; 1.058.000 ton (2005), 1.185.000 ton (2006), 1.129.000 ton (2007), 1.159.000 ton (2008) dan 1.177.000 ton (2009) dengan pertumbuhan 3,31% per tahun. Pada Tahun Anggaran 2012 daerah sentra pengembangan usaha tani Cabai diarahkan di Provinsi : Indonesia.  Cabai cocok ditanam di dataran rendah (antara 300 – 500 meter di atas permukaan laut (m dpl)) ataupun dataran tinggi (lebih dari 500 – 1200 m dpl), pada tanah yang berstruktur remah atau gembur, subur dan kaya akan bahan organik dengan pH tanah antara 6.0 sampai 7,0. Waktu tanam yang baik pada lahan kering adalah akhir musim hujan (bulan Maret - April). Kebutuhan benih untuk areal luasan tanam satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 Kg buah cabai (300-500 gr biji cabai).dengan nilai ekonomi yang tinggi.
  1. Aceh (Kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues dan Pidie); Sumatera Utara (Kab. Deli Serdang dan Tapanuli Utara); Riau (Kab. Siak); Jambi (Kab. Bungo, Tebo dan Kota Jambi); Bangka Belitung (Kab. Bangka Selatan); Sumatera Selatan (Kab. Muara Enim, Banyuasin, Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu);  Lampung (Kab.  Lampung Selatan, Lampung Utara dan Tanggamus); Bengkulu (Kab. Muko – Muko dan Lebong);
  2. Banten (Kab. Pandeglang dan Kota Serang); Jawa Barat (Kab. Bandung, Bandung Barat, Ciamis, Garut, Tasikmalaya, Sumedang dan Kota Tasikmalaya);  Jawa Tengah (Kab. Blora, Klaten, Pati, Rembang dan Sragen); DI Yogyakarta (Kab. Gunung Kidul dan Kulon Progo);  Jawa Timur (Kab. Banyuwangi, Gresik, Jember, Kediri, Lumajang dan Pacitan); Bali (Kab. Klungkung);
  3. Kalimantan Selatan (Kab. Hulu Sungai Selatan); Kalimantan Barat (Kab. Sanggau);  Sulawesi Utara (Kota Kotamobagu);  Sulawesi Selatan (Kab. Bantaeng, Barru, Jeneponto, Maros, Pinrang, Sidrap, Sinjai dan Wajo);  Sulawesi Tenggara (Kab. Konawe); Gorontalo (Kab. Boalemo, Gorontalo, Bone Bolango dan Gorontalo Utara); Sulawesi Barat (Kab. Mamuju);
  4. Nusa Tenggara Barat (Kab. Lombok barat); Nusa Tenggara Timur (Kab. Kupang dan Ngada); Papua (Kab. Mimika);  dan Papua Barat (Kab. Fak – Fak);

Usaha tani cabai dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpang sari. Dalam satu periode tanam, cabai dapat dipanen beberapa kali; bila musim dan perawatannya baik dapat dipanen 15‐17 kali. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 di 4 sentra produksi (Kab. Garut dan Majalengka (Jawa Barat), Kab. Brebes (Jawa Tengah), dan Kab. Tuban (Jawa Timur), cabai dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari. Namun usaha tani cabai selama ini dilakukan secara monokultur dan pola rotasi tanaman. Pola rotasi tanaman yang lazim dianut para petani adalah dengan melakukan pergiliran tanaman pola1 : 2 yaitu satu kali tanaman cabai merah dan 2 – 3 kali tanaman palawija/sayuran lainnya yang berbeda famili dengan cabai.

Perawatan tanaman cabai lebih rumit dibanding perawatan tanaman hortikultura lain, sehingga biaya perawatannya menjadi lebih mahal. Selain dibutuhkan pupuk yang cukup dan pengendalian OPT yang lebih sering (terutama apabila musim  hujan). Komoditas cabai rentan terhadap kehilangan hasil karena berbagai faktor. Salah satu faktor dominan penurun hasil panen cabai karena Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), yaitu :

  1. Kutu daun (Myzus persicae Sulz.), menyerang tunas muda cabai secara bergerombol sehingga daun cabai mengkerut dan melingkar;
  2. Thrips (Thrips tabaci) yang dapat menjadi vektor pembawa virus keriting daun, dengan gejala daun dan tunas cabai yang mengeriting, daun menggulung dan timbul benjolan seperti tumor;
  3. Lalat buah (Bactrocera carambolae) pada buah cabai yang sering menyebabkan   gagal panen. Laporan Kementerian Pertanian Republik Indonesia tahun 2006 menunjukkan bahwa kerusakan tanaman cabai di Indonesia mencapai 35%. Buah cabai yang terserang sering tampak sehat dan utuh dari luar tetapi bila dilihat di dalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Hama ini sebarannya masih terbatas di Indonesia, lalat buah menjadi Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK)  yang dapat menghambat ekspor buah-buahan maupun pada produksi cabai.
  4. Antraknosa atau patek (Colletotricum capsici dan C. piperatum) dengan gejala bercak pada buah, buah menjadi kehitaman, membusuk dan rontok;
  5. Bercak daun (Cercospora capsici) dengan gejala bercak – bercak kecil yang akan melebar pada daun, daun berubah kekuningan dan gugur; serta
  6. Keriting daun (TMV (Tobaco Mosaic Virus), CMVm (Cucumber Mosaic Virus) dan virus lainnya. Gejala ditandai dengan keriting dan mengerutnya daun namun keadaan tanaman tetap sehat dan segar.

Pengendalian OPT pada cabai yang telah dilakukan petani, yaitu : 1). Kultur Teknis, (menanam varietas toleran, pengaturan waktu tanam, pergiliran tanaman, tanam serempak dan tumpang sari / monokultur, sanitasi lahan dari gulma, eradikasi tanaman  terserang OPT persentase berat; 2). Secara mekanis; 3). Secara biologi : memanfaatkan musuh alami, predator (Monochilus sexmaculatus), agens hayati Bacillus subtillis, PGPR serta biopestisida        PfM 001 (Psedudomonas fluorescens) untuk penyakit Antraknosa) dan 4). Pengendalian dengan pestisida nabati dari bahan tanaman, menggunakan ekstrak tanaman (inducer) Amaranthus spinosus  (bayam duri) dan Mirabilis jalapa (bunga pukul empat) untuk Antraknosa dan TMV.

Apabila populasi hama dan intensitas serangan  penyakit cabai melebihi Ambang Ekonomi dan Ambang Pengendalian dapat diaplikasikan pestisida sintetik yang terdaftar dan diijinkan Menteri Pertanian dengan bahan aktif Propamocarb, Klorotalonil, Metalaxyl dan Difenakonazol. Penggunaan pestisida harus bijaksana, mengikuti dosis dan konsentrasi yang tercantum dalam kemasan pestisida dan mengikuti kaidah 6T (Tepat waktu, Tepat mutu, Tepat dosis/konsentrasi, Tepat sasaran/OPT, Tepat cara dan Tepat alat aplikasi).

Penggunaan pestisida sintetik untuk mengendalikan OPT Cabai dilakukan secara intensif karena praktis, mudah didapat, dan menunjukkan efek yang cepat. Adiyoga dan Soetiarso (1999) melaporkan 80% petani sayuran menggunakan pestisida sintetik untuk mengendalikan penyakit tanaman. Namun demikian penggunaan pestisida tersebut menimbulkan biaya yang lebih besar, karena sering meninggalkan residu  berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, juga berdampak juga terhadap penolakan ekspor oleh negara tujuan.

Untuk meminimalkan aplikasi pestisida sintetik yang sudah “minded” oleh petani, diperlukan solusi berupa alternatif pengendalian OPT yang Ramah Lingkungan. Alternatif tersebut secara teknis harus mudah dilakukan petani; secara ekonomi menguntungkan; secara sosial/budaya dapat diterima masyarakat; dan secara ekologi tidak menimbulkan kerusakan/pencemaran pada lingkungan serta cocok untuk diterapkan di areal luas seperti di lahan sentral produksi cabai.

Sesuai dengan amanah yang terdapat di dalam UU Hortikultura No. 13 Tahun 2010  pasal 32 tentang Sarana Hortikultura, bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan. Penggunaan sarana hortikultura dikembangkan dengan teknologi yang memperhatikan kondisi iklim, kondisi lahan dan ramah lingkungan. Direktorat Jenderal Hortikultura sebagai Direktorat Jenderal Teknis yang  bertanggung jawab terhadap pengembangan komoditas hortikultura, termasuk diantaranya pengelolaan OPT pada Cabai. Pada Tahun Anggaran 2011 melalui APBN-P 2011 memberikan bantuan Shading Net (Rumah Naungan) pada kegiatan Pengamanan Area Sentra Hortikultura terhadap Serangan dan Penyebaran Hama Tanaman. Alokasi sentra komoditas cabai tersebut, yaitu Provinsi Jawa Barat (Kab. Indramayu, Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Bandung dan Sukabumi), Provinsi Jawa Tengah (Kab. Brebes, Blora, Rembang,Demak, Boyolali dan Magelang), Provinsi Jawa Timur (Kab. Lumajang, Jember, Banyuwangi, Kediri dan Blitar) dan Provinsi NTB (Kota Mataram).

Usaha tani tanaman di lahan atau area terbuka relatif mudah terganggu dengan perubahan iklim yang bersifat mendadak sehingga berdampak pada stress tanaman yang mengakibatkan pada penurunan jumlah dan kualitas hasil panen. Shading Net  merupakan struktur bangunan dimana tanaman dapat tumbuh dan berkembang di bawah lingkungan dan kondisi artifisal (terkendali) yang berkaitan dengan suhu, kelembaban, intensitas cahaya, photo period, ventilasi, media tanah, pengendalian OPT, irigasi, fertigasi dan praktek-¬praktek agronomi lainnya. Shading Net terbuat dari rangkaian naungan dari bahan material yang memungkinkan cahaya matahari, kelembaban dan udara dapat masuk melalui celah-celah. Bahan material penutup bangunan digunakan untuk memodifikasi lingkungan yang secara khusus digunakan untuk mengurangi cahaya sekaligus melindungi tanaman dari kondisi cuaca yang kurang menguntungkan.

Fungsi Shading Net di daerah tropis (termasuk Indonesia) lebih ditekankan sebagai pelindung terhadap OPT, terpaan air hujan dan angin secara langsung. Pengaturan cahaya matahari tergantung pada pemilihan jenis atap naungan dan pengaturan temperatur serta kelembapan tergantung pada sirkulasi udara,  maka bentuk serta ukuran Shading Net sangat mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Untuk mengatasi kepekaan tanaman cabai terhadap terpaan air hujan, perubahan temperatur, intensitas cahaya matahari, melindungi tanaman dari sinar UV yang berlebihan, kelembapan udara, dan  faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman,  usaha tani cabai dapat dilakukan di bawah naungan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pemeliharaan dan perawatan tanaman bisa dilakukan secara lebih baik dan tanaman dapat terhindar dari pengaruh buruk cuaca dan dapat tumbuh lebih optimum.

Spesifikasi teknis dari Shading Net yang diberikan pada APBN-P TA 2011 Direktorat Jenderal Hortikultura untuk luasan lahan 50 x 10 m = 500m2 dengan tinggi 2,78 meter. Shading samping menggunakan tipe anyaman rajut, warna putih transparan, tipe R12-C225TrM3-70, tingkat pencahayaan 68-73%, pencahayaan yang tembus 63-69%, angin yang tembus 20-29%, lubang/cm2 : 127/cm2, Mesh (lubang pori) : 66, berat 160 -169 m2/gram, lebar 300cm dengan bahan PE (Polyethylene) Monifilamen yang mengandung Anti UV (Ultra Violet) dan Anti Oksidan. Shading Atas menggunakan tipe anyaman rajut, warna putih transparan, tipe R12-C215TrM3-78, tingkat pencahayaan 76-81%, pencahayaan yang tembus 66-71%, angin yang tembus 38-43%, lubang/cm2 : 73/cm2, Mesh (lubang pori) : 38, berat 125 -135 m2/gram, lebar 300cm dengan bahan PE (Polyethylene) Monifilamen yang mengandung Anti UV (Ultra Violet) dan Anti Oksidan.

Bahan Polyethylene cenderung membuat cahaya menjadi tersebar sehingga memberikan keuntungan bagi tanaman, kelebihan cahaya pada daun – daun bagian atas tanaman dapat dikurangi dengan memantulkannya pada daun – daun bagian bawah sehingga penyebaran cahaya menjadi lebih merata. Kwon dan Chun (1999) menyatakan bahwa hasil cabai merah yang ditanam di dalam naungan meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya dibandingkan dengan hasil panennya di lahan terbuka. Moekasan dan Prabaningrum (2011) melaporkan bahwa usaha tani cabai merah di dalam naungan yang dilakukan di daerah Brebes (± 5 m dpl), Jawa Tengah dapat menekan penggunaan pestisida lebih dari 95% dengan hasil panen lebih dari 9 kali lebih tinggi dibandingkan dengan usaha tani cabai merah di lahan terbuka.

Keuntungan menggunakan Shading Net :

1. Intensitas cahaya matahari berkurang sebesar 30-40%;
2. Kelembaban udara di sekitar tajuk lebih stabil (60-70%);
3. Laju evapotranspirasi berkurang;
4. Terjadi keseimbangan antara ketersediaan air dengan tingkat transpirasi tanaman;
5. Produksi lebih tinggi;
6. Masa panen lebih panjang;
7. Dapat dikombinasikan dengan penggunaan predator dan parasitoid; dan
8. Penggunaan pestisida sintetik dapat ditekan.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telah melakukan penelitian mengenai Kendala utama sistem produksi sayuran di rumah plastik berdasarkan peringkat kepentingannya adalah insiden hama penyakit, kualitas konstruksi rumah plastik, ketersediaan modal, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan nutrisi, ketersediaan pestisida, ketersediaan air/pengairan, ketersediaan media dan sarananya, fluktuasi harga, dan ketersediaan informasi teknis. Potensi pengembangan yang tercermin dari potensi pasar domestik dan ekspor masih menunjukkan prospek baik. Hal yang perlu dicermati berkaitan dengan kemungkinan pengembangan lebih lanjut adalah ketergantungan yang tinggi terhadap beberapa input produksi utama, antara lain benih, dan plastik UV (Moekasan dkk, 2007).

Hasil penelitian Balitsa menyimpulkan bahwa kendala utama sistem produksi sayuran di rumah plastik berdasarkan peringkat kepentingannya adalah insiden hama penyakit, kualitas konstruksi rumah plastik, ketersediaan modal, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan nutrisi, ketersediaan pestisida, ketersediaan air/pengairan, ketersediaan media dan sarananya, fluktuasi harga, dan ketersediaan informasi teknis. Potensi pengembangan yang tercermin dari potensi pasar domestik dan ekspor masih menunjukkan prospek baik. Hal yang perlu dicermati berkaitan dengan kemungkinan pengembangan lebih lanjut adalah ketergantungan yang tinggi terhadap beberapa input produksi utama, antara lain benih, dan plastik UV (Moekasan, 2007).

Faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam usaha tani cabai dalam Shading Net :

  1. Topografi Lahan : Usaha tani tanaman di bawah naungan harus dilakukan pada topografi lahan yang datar untuk memudahkan pemasangan naungan. Lahan yang miring atau bergelombang akan menyulitkan pemasangan naungan.
  2. Ukuran Luas Naungan : Naungan sebaiknya berukuran maksimum 1.000 m2, untuk memudahkan pengendalian hama yang terlanjur masuk ke dalam naungan tersebut. Hal tersebut dimaksudkan agar kerugian yang diakibatkan dapat ditekan. Usaha tani bawang merah-cabai merah dengan naungan seluas  1.000 m2 secara ekonomi sudah menguntungkan.
  3. Ukuran Kerapatan Kasa : Untuk cabai monokultur ukuran kerapatan kasa untuk dinding dan atap :  66 mesh (127 lubang/cm2), sinar matahari dapat dikurangi sebesar 43,33%.
  4. Pemasangan Naungan : Naungan sebaiknya dipasang setelah pengolahan tanah terakhir atau menjelang dilakukan penanaman. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan kasa dan mencegah terkontaminasinya pertanaman oleh OPT dan faktor lingkungan dari luar.
  5. Jarak Tanaman dengan Dinding Kasa : Untuk menghindari serangan OPT jarak tanaman dengan diding naungan minimum 0,5-1,0 meter.
  6. Sterilisasi Naungan : Sterilisasi naungan dilakukan 2-3 hari sebelum tanam diulang setiap 4-6 minggu dengan tujuan mematikan serangga hama yang terlanjur masuk ke dalam naungan. Sterilisasi dilakukan dengan aplikasi insektisida Sipermetrin atau Deltametrin (dengan konsentrasi formulasi masing-masing 1 ml/l) pada dinding dan atap naungan.
  7. Konstruksi Naungan :
  • Bambu dengan kawat sling (Harga Rp. 17.500,-);
  • Pipa galvanis dengan kawat sling (Harga Rp. 50.000,-/m2); atau
  • Pipa besi (Harga Rp. 50.000,-/m2 : rangka Rp. 35.000.m2;   net Rp. 15.000,-/m2).


Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 14 February 2014 02:14 )
 

OPT Utama Jeruk

Ulat Peliang Daun
Ulat Peliang Daun : Phyllocni...
Kutu Daun
Kutu Daun Coklat (Toxoprera ci...
Kutu Sisik
Kutu Sisik/ Kutu Perisai Lepi...
Kutu Loncat
Kutu Loncat : Diaphorina citr...
Jamur Upas
Jamur Upas : Corticium salmon...

OPT Utama Mangga

Penggerek Cabang
Penggerek Cabang : Rhytidoder...
Botryodiplodia
Penyakit Kulit Botryodiplodia...
Wereng Mangga
Wereng Mangga : Idiocerus niv...
Antraknosa
Antraknosa (Anthracnose) :Coll...
Penggerek Ranting
Penggerek Ranting: Sternochet...

OPT Utama Pisang

Kerdil Pisang
Kerdil Pisang/Bunchy Top Virus...
Fusarium
Penyakit Layu Fusarium(Panama ...
Layu bakteri
Penyakit Layu bakteri (Penyaki...
Ulat Daun
Ulat Penggulung Daun Pisang E...
Nematoda
Nematoda Parasit Akar PisangRa...
DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA
Jalan Aup Nomor 3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 - Telepon (021) 7819117, Faximile (021) 78845628
Website : http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id - E-mail: ditlinhort@deptan.go.id
Copyright © 2013 Direktorat Perlindungan Hortikultura Design by SadCom Multimedia ndik63@yahoo.com